Ibu Pertiwi Menangis: Ketika Keadilan Menjadi Barang Langka di Negeri Sendiri, Haruskah Rakyat Kembali ke Jalan?

KompasReal.id

- Editor

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id, Judul ini lahir dari kegelisahan atas semakin lebarnya jurang antara harapan rakyat dan realitas yang mereka hadapi sehari-hari. Di tengah kekayaan sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini, masih banyak masyarakat yang bergulat dengan kemiskinan, tingginya biaya hidup, terbatasnya lapangan pekerjaan, serta ketidakpastian hukum yang kerap menimbulkan rasa ketidakadilan.

 

Ketika akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan belum dirasakan secara merata, sementara kasus korupsi terus terungkap tanpa memberikan efek jera yang memadai, publik mulai mempertanyakan arah pembangunan dan keberpihakan negara terhadap rakyatnya. Dalam kondisi demikian, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar di ruang-ruang publik: sampai kapan rakyat harus bersabar?

 

Demokrasi memberikan ruang bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi, baik melalui dialog, partisipasi politik, maupun aksi penyampaian pendapat di muka umum. Oleh karena itu, ketika berbagai saluran formal dianggap tidak lagi efektif menyuarakan kepentingan masyarakat, jalanan sering kali menjadi medium terakhir untuk menyampaikan tuntutan perubahan.

 

Pertanyaan “Haruskah rakyat kembali ke jalan?” bukanlah ajakan untuk menciptakan kegaduhan, melainkan refleksi atas kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang sedang dihadapi bangsa ini. Sebab dalam sejarah Indonesia, perubahan besar selalu lahir dari keberanian rakyat untuk menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan keadilan.

 

Ibu Pertiwi tidak menangis karena rakyat bersuara. Ibu Pertiwi menangis ketika keadilan semakin sulit ditemukan, ketika kesejahteraan hanya menjadi janji, dan ketika suara rakyat tidak lagi memperoleh tempat yang layak dalam proses pengambilan kebijakan.*

Penulis : Edriadi lubis

Editor : Emas

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polda Sumbar Usut Dugaan Korupsi Pasokan Batubara UBP Ombilin, Kerugian Negara Ditaksir Rp129,6 Miliar
Pembongkaran Paksa Rumah di Pasaman Picu Keresahan, Tanpa Izin dan Musyawarah
Festival Minangkabau 2026 Resmi Dibuka, Budaya Sumbar Jadi Magnet Wisata Nasional
Bari Hardiman dan Perpi Mariani Resmi Menikah, Pesta Adat Mandailing Meriah di Simpang Tonang Induk
WALHI Laporkan Dugaan Pembiaran Tambang Ilegal Sumbar ke Mabes Polri dan Komnas HAM
APBD Pasaman Tersandung di Pos Perjalanan Dinas, Audit BPK Ungkap Kelebihan Bayar Rp243 Juta
PACAH Talau Juara 1 Turnamen Sepak Bola Pagaran Cubadak, Sukses Taklukkan Parengerenge di Final Dramatis
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:46 WIB

Polda Sumbar Usut Dugaan Korupsi Pasokan Batubara UBP Ombilin, Kerugian Negara Ditaksir Rp129,6 Miliar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:39 WIB

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:19 WIB

Pembongkaran Paksa Rumah di Pasaman Picu Keresahan, Tanpa Izin dan Musyawarah

Jumat, 26 Juni 2026 - 15:48 WIB

Festival Minangkabau 2026 Resmi Dibuka, Budaya Sumbar Jadi Magnet Wisata Nasional

Kamis, 25 Juni 2026 - 16:17 WIB

Bari Hardiman dan Perpi Mariani Resmi Menikah, Pesta Adat Mandailing Meriah di Simpang Tonang Induk

Berita Terbaru